Home » , » Belajar Dari Kader-kader Di Ciputat Timur Yang Luar Biasa

Belajar Dari Kader-kader Di Ciputat Timur Yang Luar Biasa

Written By PKS Tangerang Selatan on Sabtu, 13 Februari 2016 | 23.44

Pengurus dan Panitia Muscab PKS Ciputat Timur
PKSTANGSEL - Akhirnya usai sudah seluruh rangkaian agenda Musran DPRa se DPC Ciputat Timur atau biasa disingkat Ciptim. Alhamdulillah, saya berkesempatan mengikuti seluruh agenda Musran tersebut. Dari setiap Musran di masing-masing DPRa itu, saya banyak belajar dari kader-kader di Ranting.

Di Pondok Ranji, saya belajar semangat dan kecepatan. Semangat dan cepat menyambut seruan.. Pondok Ranji-lah yg paling pertama mengagendakan Musran dan berjalan dg baik meskipun waktu persiapan amat pendek. Sementara DPC sedang "memikirkan" waktu mulainya, Pondok Ranji sudah menetapkan waktunya. Sungguh menenangkan hati, saya teringat dgn sahabat Abu Bakar yg selalu paling depan beramal, dan membuat "cemburu" sahabat Umar bin Khatab..

Di Rempoa, saya belajar tentang kesederhanaan tetapi juga sekaligus kepercayaan diri dan ketekunan. Bertempat di musholla kecil.. LPJ-nyapun ditulis tangan tetapi amat detail. Bagaimana Rempoa bisa merekam semua kegiatan selama lima tahun yg lalu..? Nama ketuanya agak "seram" - Ayatulloh Khomeini. Tetapi, perawakannya tidak seseram namanya. Akh Khomeini menempelkan di dinding rumahnya, lembar-lembar kertas yang khusus digunakan untuk mencatat dengan manual setiap kegiatan yang sudah terlaksana. Isteri dan anaknya dilarang keras "menyentuh" lembaran itu.. Sungguh penyimpanan data yang sangat kuno, ketinggalan zaman. Tetapi beliau sangat percaya diri. Tidak peduli cibiran, "Hari gini? Ini zaman digital, bung..!!". Namun, faktanya, dari seluruh Musran yg terselenggara, inilah LPJ yg paling detail menyebutkan tanggal, tempat, jam kegiatan sepanjang lima tahun..

Di Cempaka Putih, saya belajar kelapangan, keikhlasan dan kerendahan hati. Siapa yang tidak mengenal nama besar Aswadien? Seluruh kader Ciptim dan bahkan Ciputat pasti mengenal beliau. Beliau mantan ketua DPC Ciputat, ketua RT setempat. Punya banyak pendukung. Jika bicara, bahasanya lugas dan terus terang, seperti Jawara. Tetapi juga, kadang menghibur dengan cerita anekdot dan pantun-pantunnya.

Dengan nama besarnya, tidak menjadikan beliau "malu" dan "turun wibawa" dalam melayani. Meskipun tdk mendapuk jabatan apapun di DPC - beliau-lah yg dg semangat dan senang hati memfasilitasi seluruh rangkaian kegiatan Musran di Cempaka Putih. Menjadi inisiator dan fasilitator; menyediakan tempat. menjamu tamunya dengan nasi uduk istimewa dll. Pada kesempatan itu, DPC Ciptim berkhidmat memberikan hadiah dua Sound Speaker kpd salah satu tokoh masyarakat setempat, Bpk H. Asikin. Meskipun tdk beliau ceritakan, tetapi saya tahu bahwa beliau-lah yg sesungguhnya yg sudah mempersiapkan. Saya sempat menunduk sekejap, mengingat-ingat, bukankah ini laku baginda Nabi. Memuliakan tamu dan gemar memberi hadiah..?

Di Rengas, saya belajar kesabaran dan keteguhan, terutama dr Akh Nawi, Akh Budi dan Bu Sisrie.. Musran di Rengas juga sangat sederhana. Bertempat di teras rumah salah seorang kader, Bu Sisrie. Acaranya-pun berlangsung sederhana, tanpa seremonial dll. Sedikit yang hadir, karena memang paling sedikit kadernya. Meskipun begitu, DPRa Rengas termasuk yg paling aktif dalam kegiatan dan rapat DPC. Sedikitnya kader di Rengas, selalu menjadi bahan diskusi dan obrolan. Sementara yg lain berdiskusi, kader-kader di Rengas - tanpa banyak kata - dgn penuh kesabaran berupaya melakukan rekrutmen. Sudah banyak anak remaja dan pemuda dlm pembinaan mereka sekarang ini. Insya Allah, 5 tahun lagi, keadaannya akan jauh berbeda. Kader di Rengas sedikit, tetapi keteguhan kader-kadernya menjadikan Rengas menjadi salah satu DPRa yg terdepan dalam aksi-aksi kemenangan..

Di Cirendeu, saya belajar  saling menanggung beban. Meskipun defisit kader, kader - kader yg ada saling bergilir tanggungjawab kepemimpinan. Meskipun defisit kader, DPRa Cirendeu mampu mempertahankan basis pendukung, dan bahkan menjadikan salah satu kadernya, Ust. Hasanih, kini menjadi salah satu tokoh di Ciptim. Ada juga Akh Sholeh, yang sering menjadi "tumpuan" DPRa lainnya saat aksi-aksi pemenangan, saat bergerilya di malam hari memasang bendera sehingga PKS mampu eksis di langit Ciptim..

Di Pisangan, saya belajar tentang pengorbanan, persaudaraan dan kekuatan persatuan.. Musran di Pisangan sangat berbeda. Lebih terlihat meriah dan gempita. Tidak mengherankan, karena jumlah kader Pisangan paling banyak diantara lainnya, dan yang banyak ini hampir semuanya ikut kontribusi. Di Pisangan, saya juga belajar bagaimana saling menanggung, meskipun sekecil apapun.. Setiap kadernya berperan semaksimal kemampuan mereka. Karena itulah sebesar apapun kebutuhan dana yg diperlukan, selalu tercukupi dengan "sunduquna juyubuna" dari kader-kader Pisangan sendiri dan dengan cara-cara kreatif yang dilakukan. Mereka dengan senang hati saling berlomba untuk kontribusi. Meskipun lokasi Musran terbilang jauh, yaitu di daerah Parung, hampir semua kadernya hadir.. Jumlah kader yg berlimpah dan hampir merata keberadaannya di sebagian besar wilayah, tentu tidak akan berdampak besar, jika Pisangan tidak memiliki pemuda visioner seperti Muhammad Iqbal, sang ketua DPRa. Saya tidak melihat satupun "kekurangan" ada padanya, kecuali satu  hal : "Masih Jomblo".. Bisa jadi, Pisangan juga lamban - kalah bersaing dengan Rempoa - jika tidak hadir Pak Adi Wiyasa, salah satu senior yg selalu terdepan mengambil tindakan memecah kebuntuan dengan "Angin Segar"-nya. Bisa jadi, Pisangan "terhenti" jika saja tdk ada orang yg mampu "menggerakan" seperti Pak Haji Kusnadi dan Ust. Mukhlis.. dan masih banyak lainnya..

Begitulah keadaannya. Kader-kader DPRa ini saya mengenalnya sebagian besar bukanlah orang-orang yg kuat, kaya berlimpah, bahkan dipenuhi dg banyak keterbatasan. Tetapi, keterbatasan ternyata tdk menjadi penghalang bagi mereka. Mereka sudah menang sebelum kemenangan lahiriah..  Mereka sudah memenangkan diri mereka atas kekerdilan jiwa yg kerap muncul pd kita. Mereka adalah orang-orang ksatria pemberani. Tdk takut dg keterbatasan. Bisa dikata,  dlm medan perang, selalu siap "tandang ke gelanggang walau seorang"

Mereka bukan saja juru dakwah tetapi juga guru kehidupan. Mereka bukan sekedar aktifis yg mampu "membakar" semangat menyala, tetapi mereka juga humanis, penuh cinta dan kasih sayang.. Jangan-jangan, inilah rahasianya mengapa kita akhirnya mampu dgn cepat merapikan shaff dan mampu bertahan menahan "badai" dan "pukulan" yg bertubi-tubi beberapa waktu lalu..

Jika mereka mampu berkorban begitu banyak tenaga, waktu, dana, dalam keterbatasan mereka, sementara sebagian kita justru disibukan dengan rutinitas dunia dan kepentingannya sendiri, ada yg "bersembunyi" dibalik dakwah kultural padahal hanya berdiam diri dgn kesenangan dan kepentingan sendiri..  bahkan ada yg justru membuat "planning" untuk mundur teratur..  padahal ada kelapangan yang tidak kita korbankan, ada rezeki yg kita tahan.. ada bisikan hidayah yang kita tepis dan abaikan.. Umar bin Khatab pernah berkata, kita dulu jahiliyah sampai kemudian Islam memuliakan kita. Apakah setelah Islam memuliakan kita, kita akan mengambil millah lainnya..?".. Analog dengan " dulu kita jahil dan awam, sampai akhirnya dakwah tarbiyah memuliakan kita. Apakah setelah hidayah datang, kita menjadi sombong dan hendak menjauh darinya..?"

Dalam tafakurku.. Duh..! Aku merasa malu dan rendah jika membandingkan diri dengan mereka..

Jauuuhh.. Bro..!

Tabik (sambil tegap memberi hormat),

Oleh : Lutfi (Sekretaris DPC Ciputat Timur)
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2015. PKS Kota Tangerang Selatan
Proudly powered by Blogger